Mendesain Jaringan Distribusi Supply Chain
Mendesain
Jaringan Distribusi dalam Supply Chain
Perencanaan Distribusi
Berapa banyak gudang yang harus disiapkan, lokasi
gudang, layout gudang, peralatan yang diperlukan untuk handling barang
di gudang, pemilihan teknologi dan system aplikasi warehouse management
system, transportation management system, dan lain-lain sangat
bergantung pada keputusan strategi distribusi.
Dalam merencanakan distribusi dan penetapan
fasilitas distribusi perlu keputusan strategi distribusi. Coyle dkk. (2017)
memberikan panduan dalam keputusan strategi distribusi sebagai berikut:
- PersyaratanKapabilitas
Pertama kali yang harus diperhatikan ketika mendesain sistem dan fasilitas distribusi adalah karakteristik produk. Nilai produk, ketahanan produk, sensitivitas produk terhadap temperatur, kadaluarsa produk, volume, densitas, dan lain-lain merupakan karakteristik yang menjadi pertimbangan dalam mendesain sistem dan fasilitas distribusi.Selain karakteristik produk, dalam mendesain sistem dan fasilitas distribusi perlu memperhatikan kebutuhan aliran barang. Ada dua opsi yang dipilih dalam aliran barang: (a) pengiriman langsung dari pabrik ke toko ritel atau konsumen, dan (b) pengiriman barang ke toko ritel atau konsumen melalui fasilitas distribusi.
Kebutuhan atau persyaratan untuk layanan value-added dalam
proses distribusi barang juga menentukan sistem dan fasilitas distribusi.
Beberapa barang mensyaratkan adanya akumulasi, pemilahan, alokasi, dan
lain-lain sehingga berimplikasi pada desain warehouse, apakah warehouse menggunakan
sistem manual atau otomatisasi.
- DesainJaringan
Dalam mendesain jaringan distribusi perlu memperhatikan positioning inventory, jumlah, dan lokasi fasilitas distribusi serta kepemilikan gudang. Di mana sebaiknya penempatan lokasi inventory, apakah inventory disentralisasi atau didesentralisasi? Beberapa perusahaan seperti Amazon.com menerapkan strategi penyimpanan inventory secara desentralisasi untuk buku-buku best seller, sementara buku-buku yang kurang laku atau slow moving disimpan secara sentralisasi.Unilever Indonesia menerapkan strategi sentralisasi inventory untuk produk es krim Walls di mega distribution center-nya. Umumnya, keputusan strategi sentralisasi atau desentralisasi stocking point didasarkan pada permintaan produk, ekspektasi konsumen, dan biaya penyimpanan inventory.
Penempatan lokasi inventory menentukan
desain jaringan distribusi. Manfaat dari sentralisasi inventory adalah
penghematan biaya transportasi per unit yang diperoleh dari konsolidasi
pengiriman. Selain itu, sentralisasi inventory dapat
mengurangi risiko variabilitas permintaan. Namun, sentralisasi
penyimpanan inventory berakibat lead time yang
lebih lama untuk menjangkau pengantaran barang ke konsumen.
Jumlah dan lokasi fasilitas distribusi ditentukan oleh
strategi penempatan lokasi inventory. Sentralisasi inventory membutuhkan
jumlah fasilitas distribusi yang lebih sedikit. Biaya distribusi total
dipengaruhi oleh jumlah warehouse. Ada tradeoffs antara
biaya distribusi total dengan banyaknya jumlah warehouse. Biaya
distribusi terdiri dari biaya transportasi, biaya pergudangan, dan biaya inventory.
Selain biaya tersebut, perlu dipertimbangkan potensi kehilangan penjualan (cost
of lost sales) karena kehabisan stok.
Gambar 1. Tradeoff biaya distribusi dan
jumlah warehouse
Sumber: Bardi dalam Coyle (2017)
Penambahan warehouse akan
meningkatkan biaya warehouse dan biaya inventory.
Fasilitas warehouse yang banyak akan meningkatkan biaya
adminstrasi dan biaya operasional warehouse. Setiap warehouse membutuhkan
tim personil, teknologi, dan administrasi yang dapat mendorong kenaikan biaya.
Sementara itu, penambahan penyimpanan inventory (stocking
point) akan berimplikasi pada penambahan tingkat safety stock dan
biaya penyimpanan stok di gudang.
Di
sisi lain, penambahan warehouse akan mengurangi biaya
transportasi dan potensi kehilangan penjualan (cost of lost sales).
Penambahan warehouse akan mendekatkan gudang penyimpanan
barang ke lokasi pelanggan terdekat, akibatnya biaya outbound logsitik
akan turun. Sementara penambahan warehouse akan meningkatkan
ketersediaan inventory untuk memenuhi pesanan pelanggan (order
fill rates).
Jumlah
fasilitas warehouse yang optimal ditentukan berdasarkan biaya
logistik total yang paling rendah. Setelah penentuan berapa banyak warehouse yang
harus disediakan, keputusan berikutnya adalah menentukan lokasi warehouse.
Lokasi warehouse sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mendekati
pasar atau pelanggan, pasokan bahan baku, dan ketersediaan infrastruktur jalan,
listrik, air, dan lain-lain yang diperlukan untuk kelancaran transportasi,
pengoperasionalan pergudangan, dan distribusi.
Keputusan
berikutnya, kepemilikan warehouse. Pertimbangan kapabilitas
perusahaan, ketersediaan dana untuk investasi, dan risiko menjadi dasar dalam
keputusan kepemilikan dan pengelolaan warehouse. Umumnya, opsi
kepemilikan dan pengelolaan warehouse dibedakan menjadi:
(1) private warehouse, (2) public warehouse, dan
(3) contract warehouse.
Private warehouse merupakan fasilitas
dan operasional warehouse yang dikelola sendiri.
Fasilitas private warehouse diperoleh dengan cara menyewa warehouse atau
menggunakan warehouse milik sendiri. Semua operasional warehouse dikelola
sendiri.
Sementara public
warehouse merupakan warehouse yang disediakan oleh
pemilik dan pengelola warehouse untuk disewakan ke pemilik
barang dalam jangka waktu tertentu dan bersifat transaksional. Umumnya,
penyedia jasa public warehouse memfokuskan pengelolaan produk
yang memerlukan penanganan pergudangan secara khusus seperti produk
berpendingin (refrigerated goods) dan bulk storage.
Contract
warehouse merupakan pengelolaan warehouse oleh perusahaan
penyedia jasa logistik (3PL). Contract warehouse merupakan
kustomisasi pengelolaan public warehouse yang dilakukan
secara dedicated dalam jangka waktu tertentu sesuai periode
kontrak kerjasama. Perusahaan 3PL pengelolaan contract warehouse menyiapkan
gudang, tenaga kerja, fasilitas MHE (material handling equipment) untuk
memberikan solusi logistik dan distribusi ke pelanggannya. Produk-produk yang
dikelola umumnya produk yang memerlukan pengelolaan secara khusus seperti
produk farmasi, elektronik, consumer goods, dan produk manufaktur
yang bernilai tinggi.
Pertimbangan
perusahaan dalam menentukan keputusan apakah pengelolaan warehouse secara private,
public, dan contract didasarkan pada beberapa aspek
seperti: troughput volume, demand variability, market density, special
physical control needs, security requirements, customer services
requirements, dan multiple use needs.
Produk
dengan volume troughput tinggi, pola permintaan yang stabil,
densitas pasar yang tinggi, produk yang memerlukan pengawasan dan pengamanan
khusus, dan produk yang memerlukan layanan pelanggan sesuai kebutuhan
pelanggan, umumnya lebih tepat bila warehouse dikelola
secara private.
Sebaliknya,
bila volume troughput relatif rendah, pola permintaan yang
berfluktuasi, densitas pasar yang rendah, dan produk yang tidak memerlukan
pengawasan dan pengawasan secara khusus, pengelolaan warehouse oleh
perusahaan 3PL akan lebih tepat.
Penting
untuk diperhatikan, dalam keputusan pengelolaan warehouse apakah
dikelola sendiri atau diserahkan pengelolaannya ke perusahaan 3PL,
pertimbangannya bukan hanya cost dalam analisis “make
versus buy”. Pertimbangan tingkat layanan dan karakteristik permintaan
produk harus menjadi pertimbangan penting.
- Pertimbangan Fasilitas Warehouse
Keputusan stratejik dalam perencanaan warehousing selain capability requirement dan network design adalah fasilitas warehouse. Fasilitas warehouse ini mencakup keputusan ukuran luas warehouse sesuai kebutuhan operasional, interior layout, dan lokasi produk.
Distribusi
memegang peran penting dalam supply chain untuk memenuhi order pelanggan.
Pertimbangan service level dan biaya distribusi menjadi
penting dalam keputusan strategi dan perencanaan distribusi. Dalam konteks
pasar, peran distribusi untuk menjaga keseimbangan pasokan barang agar tidak
terjadi kekurangan dan kelebihan barang di pasar sesuai harga equilibrium antara supply dan demand.
Fasilitas
distribusi mengintegrasikan aliran produk dari manufaktur, pengecer, dan
konsumen akhir. Strategi dan perencanaan distribusi perlu dirancang
secara cost-effective. Pemenuhan order secara
akurat dan cepat dengan biaya yang terendah merupakan tantangan dan tujuan dari
peran distribusi untuk meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan dalam
menyediakan layanan pelanggan.
